Cinta Tanah Air : Menjaga Kewarasan

Beberapa tempo yang lalu saya mendapat email dari seorang rekan saya, Mas Pranoto. Berhubung materinya terlalu bagus, terlalu sayang apabila hanya disimpan sendiri. Maka atas ijin beliau, saya copas materi tersebut disini ..

Saya termasuk jarang menonton TV,
Paling kalau nonton ya Kick Andy, Discovery atau NatGeo Nah, suatu saat, menemani istri yang sedang nonton, saya ikutan nonton
Ternyata ada acara peringatan 6 tahun sebuah acara gossip selebriti di TV

Terlihat kegembiraan di wajah pembawa gossip dan yang di gossip kan
Nampak senyum senyum mengikuti music dan acara anugerah berupa penghargaan
Ketika tiba saatnya acara penghargaan, saya kaget bin cenut cenut
Suara pembawa acara: Penghargaan untuk pasangan favorit dalam acara gossip ini, jatuh kepadaaaaaa
Si Fulan dan si Centiiiiil…..
Maka, melengganglah pasangan tadi dengan anggun diiringi music indah ke panggung menerima penghargaan
Semua orang bertepuk tangan gembira dan mengucapkan selamat

Kembali kepala saya berdenyut, tidak mampu mencerna
Apa yang membuat mereka layak di hargai ?
Apakah skandal, popularitas atau apalah yang membuat pasangan tersebut disuka ?
Apakah kalau menerima penghargaan, maka layak di jadikan panutan ?
Kalau tidak layak menjadi panutan, mengapa di beri penghargaan ?
Apakah dinegeri ini sudah tidak ada lagi orang yang layak di beri penghargaan kecuali menjadi biang gossip ?

Dari kepala berdenyut, berubah menjadi duka yang dalam untuk bangsa ini
Saya rindu acara dimana orang mengagumi para peneliti, para orang jujur yang menapaki jalan sunyi
Saya rindu acara dimana ada penghargaan atas pencapaian prestasi, pencapaian atas usaha kemanusiaan yang tiada henti
Kalaupun ada semacam Kalpataru, kapan acara tersebut disiarkan di TV, agar anak anak kita tahu bahwa itulah orang orang yang layak ditiru
Tidak salah kalau bangsa ini mengalami kemunduran, mengalami kemandekan pemikiran, mengalami pengerdilan
Idola saat ini bukan lagi ke para teladan sejati.
Saya marah saat ada seorang da’I menuduh Soekarno lah yang mengarang perayaan 17 Ramadhan, karena Soekarno mendewakan angka 17
Buktinya, sebelum kemerdekaan, tidak ada perayaan 17 ramadhan

Kalaupun masih ada disebut cita cita mulia, misal menjadi da’I, maka banyak yang bercita cita menjadi da’I terkenal
Ya, terkenal dan kaya adalah menjadi cita cita, meski kita tahu bahwa terkenal itu adalah akibat, dan bukan tujuan
Maka, kitapun tahu, cita citan sebenarnya adalah menjadi terkenal, dengan cara menjadi da’i.

Saya pernah melihat acara idol idol an, dimana dilukiskan beratnya perjuangan seorang istri petani miskin yang rumahnya tidak memiliki listrik,
Dan sang istri rela menjual kambing untuk ongkos pergi ke kota serta meninggalkan 2 anak yang masih kecil demi berjuang untuk ikut audisi
Dan semua orang menitikkan air mata, termasuk sang presenter, karena kagum atas “perjuangan” dan “pengorbanan” seorang miskin
Saya tidak bisa berkata kata lagi

Dalam skala besar, saya juga tidak bisa memahami, kenapa pemerintah harus berjuang

untuk membeli saham di perusahaan tambang asing yang menambang mineral di perut bumi ibu pertiwi ?
Saya tahu, ada segala macam argumentasi legal, kontraktual, fiskal, hegemoni barat dan lain sebagainya
Tapi, dimana ada logika ?. Ketika seorang pemilik tanah, yang tidak dibayar atas tanah yang dipakai, menginginkan sedikit kepemilikan atas hasil tanah yang dimiliki ?
Di ranah politik, bagaimana bisa seorang menginginkan menjadi bupati dengan menghabiskan biaya 20 M, sementara gaji resmi bupati hanya 8 juta sebulan ?
Apakah kadar kenegarawanan mereka amat tinggi atau justru keliru kalau mengharap mereka jujur ?
Dean kita cukup kejam untuk selalu memilih mereka yang membayar….

Pernah, saya baca detikcom, ada seorang menteri yang terbang ke Tehran, tapi rombongan lewat Jerman dulu. Katanya, penerbangan ke Tehran lewatnya Jerman
Saya tidak tahan membaca keterangan singkat itu. Betapa kita harus menelan segala macam kebodohan atau pura pura tidak tahu seperti itu. Ini tahun 2010.
Siksaan belum berakhir.
Tiap hari saya melewati poster besar di Semanggi, isinya ajakan kepada bangsa

Indonesia agar menjadi bangsa yang bermartabat dengan menjadi tuan rumah piala dunia 2022.
Iki piye ?. Bukannya martabat ditentukan pada prestasi, tingkah laku dan keseriusan ?. Ini ngerti atau pura pura tidak mengerti ?
Asal tahu saja J League, dulu belajar dari Galatama pada awal 90 an. Dan sudah pada tahu semua soal prestasi Jepang.
Maka, sayapun berdoa, jadikan saya tetap waras, jadikan bangsa Indonesia tetap waras…..

Salam gelisah,
Pranoto
Jakarta 18 syaban 2010

Iklan

8 thoughts on “Cinta Tanah Air : Menjaga Kewarasan

  1. Ya gimana ya kang, udah kehabisan kata juga. Emang trendnya sekarang seperti itu kali yah? segala sesuatu yg bersifat materialis dipuja-puja dan popularitas jadi sesuatu yang dikejar …

    Sama, saya juga gelisah, dan gak tahu juga apa yang bisa/perlu dilakukan …

Komentar ditutup.