Review : “Bung Hatta – Pribadinya Dalam Kenangan” (2)

Bung Bung Hatta - Pribadinya Dalam Kenangan

Bung Bung Hatta - Pribadinya Dalam Kenangan


Seperti janji saya sebelumnya, saya akan melanjutkan review buku ini.
**************************************************
Stovia
1920, Bung Hatta berada di Jakarta untuk bersekolah di Prins Hendriks School (Sekolah Menengah). Di sana Bung Hatta bertemu dengan beragam pelajar, termasuk STOVIA dan memasuki dunia organisasi. Ya, Jong Sumatranen Bond.

Dalam kedudukannya sebagai bendahara, Bung Hatta memperlihatkan ketegasan sebuah disiplin yang tidak kenal kompromi. Beliau menyiarkan daftar mereka yang lama menunggak uang langganan, tak perduli apakah statusnya pembesar masyarakat atau bukan. Tentu saja ini mengakibatkan kehebohan luar biasa, sekaligus memberikan surplus organisasi sebesar 700 gulden.

Perjuangan di Negeri Belanda
Tulisan-tulisan Bung Hatta dalam Gedenkboek (Buku Peringatan) di tahun 1923 dalam memperingati 15 tahun Indonesische Vereeniging dan majalah Indonesia Merdeka selalu tajam dan bermutu tinggi. Bahkan tak sungkan membuka polemik dengan J.E Stokvis yang terkenal dari Partai Sosialis – Demokrat mengenai gunanya non-koperasi, dengan pemerintah kolonial Belanda tentang kemerdekaan Indonesia. (Bung Hatta menguasai empat bahasa asing secara aktif : Belanda, Inggris, Jerman dan Prancis).

Baca lebih lanjut

Iklan

Review : “Bung Hatta – Pribadinya Dalam Kenangan” (1)

Bung Hatta

Bung Hatta

Saya ingin menuliskan review mengenai sebuah buku tentang tokoh yang luarbiasa. Judulnya adalah “Bung Hatta – Pribadinya dalam kenangan”. Buku ini disunting oleh sang putri tercinta Bung Hatta, Meutia Farida Swasono. Serta diterbitkan oleh penerbit Sinar Harapan dan Universitas Indonesia.

Seperti yang disarankan oleh rekan-rekan di plurk (terutama Koen), besar kemungkinan review ini akan ditulis secara serial… 😀 no promise 😀

Buku ini dimulai dari catatan-catatan keluarga terdekat Bung Hatta. Tak heran, keluarga sebagai satuan terkecil sebuah negera. Pembahasan seorang tokoh besar kenegaraan akan mudah dicerna bila dimulai dari satuan keluarga terlebih dahulu. Ini menurut saya.

Kita akan lebih mudah mengenal sosok Bung Hatta secara pribadi, apa yang dipikirkan dan dirasakan, bagaimana menangani keluarga dan anak-anaknya. Bagaimana memberikan contoh teladan, menyelenggarakan lingkungan keilmuan bagi anak-anaknya sejak kecil, memberikan praktek disiplin dan jiwa besar,.. dan masih banyak lagi.

Saya belum khatam membaca buku ini, baru 10 artikel dari BAB 1 ( Total ada 5 BAB ). Sebelumnya, saya pikir saya sudah menghabiskan 10 BAB haha… 😀 Menimbang dan mengingat hasil diskusi disini, saya coba untuk menuliskannya, sebatas yang saya mampu. Mohon maaf akan bias informasinya ya ..

Buku ini disusun dari 84 artikel yang ditulis oleh orang-orang yang berbeda, yang menyimpan kenangan pribadi terhadap Bung Hatta. Baik dari keluarga, rumah tangga, rekan seperjuangan, rekan akademis sampai kepada dokter dan perawat. Karena itu, membaca buku ini menjadi begitu menarik, jauh dari kesan dokumenter kaku yang penuh dengan tanggal-menanggal. Lebih seperti membaca surat mengenai keluarga yang kita kenal. Mudah dicerna !

Kesan saya : amazing. Bung Hatta adalah standing ovation bagi negeri ini.

Baca lebih lanjut

Akar

Seingat saya, Mario Teguh dalam suatu sesi acaranya di Metro TV pernah berkisah,

“Alkisah, ada seorang anak yang telah hidup mapan dan berprofesi sebagai eksekutif muda sowan (bertandang) kerumah orangtuanya.

Setelah menginap semalam, pagi harinya, dia berangkat ke kantor, langsung dari rumah orang tuanya.

Sang Ibu yang penuh cinta melambainya, `Nak bawalah makan bekal makan siang ini`

`Tidak Ibu, terimakasih, aku bisa makan sendiri dikantor`, tolak sang anak yang merasa hidupnya telah mapan

`Makanan di rumah lebih sehat nak`

`Ah, tidak usah, Ibu, biar saya beli sendiri..`

Kemudian terjadilah dialog berbantahan antara sang anak dan ibunya yang berakhir dengan mengalahnya sang ibu pada kekukuhan sang anak.

Demikian kisah pagi itu. Sore harinya, sang anak memperoleh kabar bahwasanya sang Ibu tercinta telah meninggal dunia.”

Moral cerita ini, demikian Mario Teguh berkata, jangan pernah sia-siakan cinta orang tua. Waktu mereka terbatas, tak banyak.

Baca lebih lanjut

Pesimisme-Optimisme di pergantian tahun

Mungkin tak semua orang yang menutup 2008 dengan manis dan menyenangkan. Yeah, setidaknya, dan kurasa begitu. Krisis ekonomi yang melanda, banyak perusahaan yang nyaris gulung tikar, banyak ancaman PHK, meningkatnya life cost dan banyak cerita-cerita kelabu diseputaran negeri kita. (Thx to @jafis atas artikelnya)

Ndorokakung di blognya telah mengingatkan tentang satu point lagi, anak-anak dan pendidikan, yang kian menambah panjangnya deret awareness kita akan carut marutnya kondisi dinegeri ini.

Sementara itu ditingkat internasional, tragedi kemanusiaan akibat serangan biadab israel yang menewaskan banyak warga sipil (thx to @kappachan atas diskusinya), kasus kematian munir yang belum selesai dan memberikan berita mengejutkan diakhir tahun 2008 (Thx to @perempuanapi atas linknya),.. dsb dsb..
Baca lebih lanjut