Selamat Hari Ibu, sodara-sodariku !

Selamat Hari Ibu !

Hari ini, kuhaturkan beribu terima kasih buat para Ibu, dan kaum wanita.

Oprah, dalam salah satu episodenya bercerita, “If u wanna see your country better, you should take care about girls better.”

Maksudnya gini, ibu adalah orangtua terdekat bagi anak. Gimana-gimana pendidikan bagi anak, ibulah yang paling berpengaruh.

Dan anak adalah generasi penerus dari suatu bangsa. Dan kelak, setiap anak gadis (girls) akan menjadi seorang ibu yang mendidik anak-anaknya. Karena itulah, perhatian bagi anak gadis harus lebih baik dari sekarang. Terutama pendidikan dan kesejahteraan.

Ya itu di US, dimana pendidikan dan kesejahteraan relatif lebih baik dari negeri kita.

Dimanapun, tugas dan tanggung jawab ibu itu berat. Dan bertambahnya usia zaman serta globalisasi membuat tugas seorang Ibu kini semakin berat lagi.

Dinegeri kita, dimana angka kemiskinan masih relatif lebih tinggi, wanita acapkali menjadi kaum yang paling miskin. Betapa tidak, dalam struktur budaya yang memberikan tuntutan besar kepada kaum wanita, terkadang mereka masih pula memperoleh beban tambahan, memberikan kontribusi ekonomi penopang keluarga.

Apalagi di level masyarakat menengah kebawah. Saya bicara mengenai buruh wanita disini. Seorang ibu dengan tuntutan ekonomi, adalah tipikal buruh wanita di negeri ini ..

Disisi pendapatan, mereka pun seringkali memperoleh pendapatan yang relatif lebih kecil. Lebih lagi, pekerjaan yang mereka lakukan sering dikategorikan dalam pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan. Walaupun sebenarnya pekerjaan yang mereka kerjakan itu sebuah pekerjaan yang terampil. Ndak percaya ? Coba jalan-jalan ke pabrik rokok atau perakitan deh ..

So, kesempatan ibu untuk mendidik dirinya sendiri agar menjadi manusia yang lebih mumpuni telah menjadi semakin berat, sodara/i ..

Bila diijinkan, sebagai seorang muslim, saya ingin mengquote hadis berikut

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda bahwa baik buruknya suatu bangsa dapat dilihat dari kaum wanitanya. Jika kaum wanitanya baik maka bangsa itu akan baik, sebaliknya jika wanitanya buruk, maka bangsa itupun akan buruk pula.” (Maaf saya lupa sanad dan riwayatnya)

Pun quote berikut :

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah, β€œSiapa orang yang paling berhak diperlakukan dengan baik?” Rasul menjawab, β€œIbumu, ibumu, ibumu; lalu bapakmu; baru kemudian kepada orang yang lebih dekat dan seterusnya. (HR. Muslim)

Saya percaya semua agama memuliakan wanita (ibu). Tapi bagaimana dengan penganutnya ?

Keluarga sebagai satuan terkecil dari sebuah bangsa/negara. Pendidikan anak, yang merupakan generasi berikutnya dari sebuah bangsa, mau tidak mau terletak dipundak seorang ibu (wanita). Bagaimana kualitas sebuah bangsa esok hari, adalah bagaimana kualitas para ibu (kaum wanita) dinegara itu hari ini.

So, PR kita orang Indonesia banyak sekali, kalo kita mau Indonesia maju dan lebih baik. Dan itu adalah pekerjaan real kita semua. Bahkan, saya sebagai kaum pria (Anak dari seorang ibu, suami bagi seorang istri, calon bapak bagi seorang calon anak, dan paman bagi dua orang ponakan cewek yang lucu imut lagi cerewet πŸ˜€ ), wajib menyelenggarakan situasi yang mendukung bagi kondisi tersebut.

Bagaimana dengan hari Bapak ? Perlukah ada ?

Pertanyaan diatas mungkin akan menemui jawaban yang sama dengan :
Bagaimana dengan ibu tiri ? Layakkah merayakan hari ibu ?
Bagaimana dengan ibu panti asuhan ?

Hm,.. saya punya seorang rekan yang istrinya meninggal sesaat setelah melahirkan. Seorang single father, single parent bagi seorang putri yang lucu. Kini sehari-hari dia harus merangkap tugas secara dwifungsi, baik sebagai ayah sekaligus sebagai ibu. Menafkahi keluarga sekaligus membesarkan seorang anak dengan kasih sayang yang layaknya kasih sayang seorang ibu. Tak mudah memang, namun keadaan menuntut. (Nang, aq salut dengan ente)

Saya juga punya seorang kenalan yang sehari-harinya mengurusi panti asuhan. Memberikan perhatian, kasih sayang dan didikan dari seorang ibu bagi sekian banyak anak yatim piatu di panti asuhan tersebut. Menjadi ibu bagi mereka semua.

Dan saya juga dengar dalam sebuah diskusi di radio (SSFM) tentang seorang ibu tiri bagi empat orang anak yang telah sukses mengantarkan mereka semua menjadi `orang`. Dan bahkan kini telah menjadi nenek yang tercinta bagi ke-empat cucunya.

Ibu, kini bukanlah merujuk kepada gender belaka. Lebih kepada fungsi. Setiap saat, siapapun dari kita, mungkin dapat dituntut untuk berfungsi layaknya seorang ibu.

Selamat hari Ibu sodara-sodariku semua !

Iklan

18 thoughts on “Selamat Hari Ibu, sodara-sodariku !

  1. jadi teringat pertanyaan “Sudahkah kita memulaikan ibu kita?”
    dan saya pun menjawab “Blum”
    tulisan ini menegur saya untuk lebih baik dalam menghargai seorang ibu dan wanita tentunya.
    met Hari Ibu

  2. @arul : komentar arul membuat saya harus lebih nyadar bahwasanya cinta ibu 24 karat dan cinta saya masih penuh karat … πŸ˜€

    titip salam buat bunda arul

  3. tak ada yang sesuatu pun yang melebihi besarnya jasa dan pengorbanan seorang ibu, mas dadan. dan yang luar biasa, seorang ibu tak pernah meminta balas jasa dan balas budi. semuanya dilakukan dengan ihlas, tanpa pamrih. semuanya smeata2 hanya didasarkan pada naluri keibuan. semalat hari ibu, dirgahayu ibu indonesia!

  4. selamat hari ibu
    syurga masih di bawah telapak kaki ibu
    hormati ibu selalu
    postingan ini mencerahkan saya mas
    sebab saya ngeplurk dan ngeblog sampe malam hingga mengabaikan IBUNYA ANAK ANAK ……………huuuuu
    salam hormat saya untuk Ibu2

  5. salam dari bandung

    masih layakkah hari ibu di peringati di saat para ibu takmampu membeli susu untuk anaknya karena suaminya di PHK kemudian bunuh diri karana di negeri para bandit mati adalah mimpi indah kaum jelata

    artikel terbaruku …… perempuan yang berhati kudus (artikel ini buat saudaraku kaum perempuan yang memperingati hari ibu di negeri para bandit di mana kemiskinan menantang langit, membuat kami tak mampu lagi menggurat kasih ibu di batu yang berlumut tapi kasih ibu hanya bisa di permainkan lewat iklan-iklan politik)
    http://esaifoto.wordpress.com

  6. Jadi inget waktu itu mamaku pernah ngomong, “anak-anak kamu nantinya ga peduli kamu itu gelar S2 atau karir tinggi kaya gimana. Okelah, itu mungkin hal yang baik, tapi kalau kamu ga bisa ngurus rumah, ga bisa menyayangi anak-anakmu, ga bisa ngebuat keluarga kamu jadi orang yang lebih baik, kamu ga punya peran apa-apa.”

    Suatu hal yang berkesan ‘remeh’ seperti ‘rumah’ ternyata mempunyai andil yang sangat besar ya πŸ™‚

  7. Selamat hari ibu Mas Dadan. Dan terima kasih atas kunjungannya ke blog-e wong Jawa (baca: Jowo)Tumetesing Kabar.

  8. @Goes Dipa @aRai @Tumetsingkabar :met hari ibu juga .. πŸ˜€
    @Jiewa : you ‘have may deepest sympathi, bro πŸ™‚
    @ichanx : met tahun baru bro;
    @nita : thx atas kunjungannya dan masukannya mbak nita. (di amrik sono ada hari bapak juga ternyata, aku baru tahu)
    @whisperingwind : yo sob .. πŸ˜€ masih sibuk. biasa.. akhir tahun

Komentar ditutup.