Review : “Bung Hatta – Pribadinya Dalam Kenangan” (2)

Bung Bung Hatta - Pribadinya Dalam Kenangan
Seperti janji saya sebelumnya, saya akan melanjutkan review buku ini.
**************************************************
Stovia
1920, Bung Hatta berada di Jakarta untuk bersekolah di Prins Hendriks School (Sekolah Menengah). Di sana Bung Hatta bertemu dengan beragam pelajar, termasuk STOVIA dan memasuki dunia organisasi. Ya, Jong Sumatranen Bond.
Dalam kedudukannya sebagai bendahara, Bung Hatta memperlihatkan ketegasan sebuah disiplin yang tidak kenal kompromi. Beliau menyiarkan daftar mereka yang lama menunggak uang langganan, tak perduli apakah statusnya pembesar masyarakat atau bukan. Tentu saja ini mengakibatkan kehebohan luar biasa, sekaligus memberikan surplus organisasi sebesar 700 gulden.
Perjuangan di Negeri Belanda
Tulisan-tulisan Bung Hatta dalam Gedenkboek (Buku Peringatan) di tahun 1923 dalam memperingati 15 tahun Indonesische Vereeniging dan majalah Indonesia Merdeka selalu tajam dan bermutu tinggi. Bahkan tak sungkan membuka polemik dengan J.E Stokvis yang terkenal dari Partai Sosialis – Demokrat mengenai gunanya non-koperasi, dengan pemerintah kolonial Belanda tentang kemerdekaan Indonesia. (Bung Hatta menguasai empat bahasa asing secara aktif : Belanda, Inggris, Jerman dan Prancis).
Yang lebih mengesankan adalah pidatonya saat diangkat menjadi ketua Perhimpunan Indonesia (1926) yang berjudul Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen (Susunan Ekonomi di Dunia dan Pertentangan-pertentangan Kekuasaan). Bayangkan, saat itu usia beliau baru 23 tahun ! Dan pidato ini seolah menjadi pendant disertasi Mr. F.M Baron van Asbeck, Onderzoer naar de Juridische Wereldbouw (Penelitian mengenai Susunan Hukum di Dunia) (yang nantinya kemudian dimuat dalam buku Verspreide Geschriften (Kumpulan Karangan) Bung Hatta ditahun 1952). Ini membuktikan betapa tinggi mutu kecerdasan Bung Hatta di usianya yang ke 23 itu!
Satu hal yang secara gigih dipertahankan oleh Bung Hatta (dan rekannya Mas Bardjo) adalah soal kebangsaan (nasionalisme) yang sangat penting artinya. Saat itu Ernest Renan memiliki teori nasionalisme yang ditulis berjudul Qu’uest ce qu u’une nation (apakah bangsa itu) di Universitas Sorbonne, Paris (Penggemar LP pasti tahu universitas ini). Teorinya (subyektif) berbunyi, bukan tanda-tanda fisik yang dapat disaksikan oleh pancaindra (obyektif) seperti persamaan ras, keadaan geografis yang menentukan adanya suatu bangsa (nation) melainkan semata-mata terdapatnya kehendak bersama untuk memiliki suatu negara, berdasarkan pengalaman menerima nasib yang sama dalam suka dan terutama dalam duka, sehingga timbul keinginan untuk hidup bersama-sama untuk selama-lamanya senasib dan sepenanggungan.
Inilah yang terjadi pada bangsa Indonesia yang menuntut haknya untuk menentukan nasib sendiri. (sebaliknya, ditempat dan waktu yang lain, Bung Karno berpendapat sebaliknya. Teori Renan sudah usang, hanya geopolitislah satu-satunya faktor yang menentukan).
Bung Hatta menghadiri Kongres Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial (10-15 Febuari 1927) mempertahankan dengan gigih hak bangsa Indonesia untuk merdeka. Kehadirannya dalam kongres itu, ditambah dengan tulisan-tulisannya yang selalu menyerang Belanda, membuat ia (bersama Nazir Pamontjak, Ali Sastroamidjojo dan Abdul Madjid Djojoadiningrat) ditangkap dan di adili di Den Hag. Disini beliau memperlihatkan hal yang mengesankan lagi : pidato pembelaannya (pledooi) yang bejudul Indonesia Vrij (Indonesia Merdeka) menjadi dokumen penting mengenai busuknya imperialisme yang patut dipelajari hingga sekarang. Dokumen ini setara dengan pledooi Bung Karno yang berjudul Indonesia Menggugat (1930).
**************************************************
Demikianlah, buku ini masih mengulas banyak mengenai periode kehidupan Bung Hatta. Banyak sekali episode yang tak mungkin saya kupas habis disini. Mengenai PKI, pembubaran PNI, konflik Dwi Tunggal, pertempuran Surabaya, pasca menjabat, menjadi dosen, mendidik kader (Des Alwi adalah didikan Bung Hatta sejak kecil – di Bandaneira), mencetak blue print perjuangan, karya-karya ilmiahnya, dan masih sangat banyak sekali . Sungguh sebuah buku yang luar biasa, dan saya rekomendasikan untuk memiliki dan menyerapnya. (Sungguh, saya berharap bahwa buku ini seharusnya diapresiasi sejak bangku sekolah ! Banyak hikmah mengenai pembentukan karakter manusia Indonesia dalam buku ini, yang harusnya diukirkan pada generasi muda kita.)
Akhirulkalam, walaupun Bung Hatta telah mendahului kita, semoga Bung Hatta ini bukanlah Bung Hatta terakhir yang terlahir bagi negeri ini. Semoga banyak Bung Hatta-Bung Hatta lain yang akan lahir dan bersinar bagi Indonesia. Amiin dan Merdeka !!
Bukugrafi
Judul : Bung Hatta – Pribadinya Dalam Kenangan
Penyunting : Meutia Farida Swasono
Tebal : 726 Halaman
Penerbit : UIP dan SH
Percetakan : Sinar Agepe Press, Jakarta,
Terbit : 1980, CEtakan Kedua
Jenis : Hardcover
Kertas : Bagus (dan tahan lama) !
Review kali ini saya sarikan dari tulisan :
- Bahder Johan
- Sunario
dalam buku tersebut





[...] baru saja menyeleseikan review (disini dan disini) mengenai buku ini pada blog wordpress saya. Sebuah buku yang mengulas banyak mengenai periode [...]
Review Buku : “Bung Hatta - Pribadinya Dalam Kenangan” | cakdadan.com
14 Januari 2009 at 06:34
nice review
hakim
14 Januari 2009 at 09:27
Keren beliau nih, berani nagih dengan cueknya, tanpa pandang bulu.
Review-nya juga keren. Terutama spesifikasi kertasnya…
hanin
14 Januari 2009 at 09:44
Pak Pak.. mohon dicek apa bener bahasanya begini: ‘Qu’uest ce qu u’une nation’ (sek ta, atau perancis saya yang perlu belajar lagi nih.. hehe.. kayanya gitu..)
Wah, bener-bener berbeda dengan masa sekarang. Di saat lampau, dalam usia 23 tahun beliau mampu membuat orang ‘mendengarkan’. Sedangkan saya di usia mendekati 30 selalu dianggap anak kecil sama orang-orang di kementrian. Baru, deh, nangis di kamar mandi kantor jadi upaya satu-satunya buat mereka ‘mendengarkan’. Salut untuk bung Hatta.
Your review is fabulous, pak! Two thumbs up!
Ciao bella,
mamisinga
mamisinga
14 Januari 2009 at 11:14
@hakim : thx
@hanin : harusnya emang tegas gitu.
ttg kertas, aku belum nemu istilah jenis kertasnya apa. cuman itu buku cetakan 1980 dibaca th 2009, kertasnya masih bagus dan ciamik …
@mamisinga : iya ntar aku cek sih .. rasanya dibuku tertulis gitu ..
yeah, 23 thn ku juga gak bisa dibanggain kayak beliau .. haha
thx atas masukan, dan komen nya mam !
dadan
14 Januari 2009 at 11:34
manusia langka.
kesederhanaan, keberanian dan kecerdasan. tiga hal menakjubkan dimilikinya sekaligus. apa ga langka itu?
yati
14 Januari 2009 at 13:51
@yati
ya yati, langka. he is the best indonesian’son we ever had.
dadan
15 Januari 2009 at 05:53
salam kenal yah dari aq buat kamu
iwan
15 Januari 2009 at 09:30
Jadi review-nya berakhir nih? Hmm, penonton kecewa
. More, more, more!
Yang menarik dari para bapak bangsa kita adalah ketidaklekatan mereka pada label2. Oh, itu ide komunis, oh itu ide nasionalis, oh tokoh itu separatis, sekularis, dll. Hal2 semacam ini seharusnya memaksa kita setiap saat mengkaji dan menguji kebijakan2 sendiri, dan kemauan belajar dari berbagai sumber.
Koen
15 Januari 2009 at 11:20
wah..
cocok dijadikan panutan
annosmile
15 Januari 2009 at 13:50
ah, ternyata beliau seorang poliglot, seperti juga h. agus salim. hal ini memungkinkan beliau membaca banyak buku dr berbagai bahasa (tentunya waktu itu buku2 berbhs melayu/indonesia belum banyak). pantas saja beliau dlm hal pemikiran jadi selangkah lebih maju
nita
15 Januari 2009 at 18:11
ya… saya juga mengagumi ketokohan beliau, banyak tokoh pergerakan adalah seorang kutu buku
peyek
15 Januari 2009 at 22:04
pinjem dunk bukunya mas :d klo ke gresik jgn lupa di bawah yahhh heheheh
agusrest
16 Januari 2009 at 18:12
Bagus reviewnya.
Rian Xavier
17 Januari 2009 at 11:53
@iwan : salam kenal
@Koen : seri ntar akan lanjut dalam judul yang lebih kecil-kecil, agar lebih ringan scr hehe… iya, bung hatta bisa lepas dari kotak-kotak cap seperti itu. salut
@annosmile : setuju
@nita : gemar membaca akan membuat bangsa ini selangkah lebih maju pula.. amin
@peyek : setuju
@agusrest : la wong aku juga minjem jee…
@rian : makasih
dadan
18 Januari 2009 at 07:00
nice post, aku link ya di blogku
Hilal Achmad
18 Januari 2009 at 16:21
@Hilal Achmad
sebuah kehormatan bagi saya bos
dadan
18 Januari 2009 at 16:58
gw masih kagum dengan sifat gentle hatta yang memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya, karena gak cocok dengan sukarno… dan semakin kagum karena meskipun pandangan politiknya bersebrangan, ternyata hatta masih bisa menjalin hubungan silaturahmi yang luar biasa dengan sukarno… coba pemimpin sekarang bisa mencontoh sifat beliau….
ichanx
19 Januari 2009 at 00:15
@ichanx : hehe.. paling gak niru 50% nya dari beliau aja .. udha cukup baik deh ..
yap, aq salut sama jiwa besarnya
dadan
21 Januari 2009 at 20:31
kunjungan pertamax…
arek TPC juga ternyata…salam kenal mas
antown
25 Januari 2009 at 06:16
apakah putrinya, Mutia Hatta, bisa mengikuti jejak sang ayah??
btw, pean juga anak nganjuk-kah?
Treante
25 Januari 2009 at 16:50
@antown : suwun cak ! salam kenal
kita merindukan sosok seperti bung hatta. nganjuk ? hmm iya .. istriku yang orang nganjuk sebenarnya. Nganjuk sebelah mana ? Lohceret?
@Treante : semoga
dadan
25 Januari 2009 at 17:55
Bung hatta adalah sosok pemimpin yang sya idamkan.. semoga indonesia kembali menemukan sosok pemimpin seperti itu lagi.. amin..
Salam kenal dan silaturahim…
angga erlangga
26 Januari 2009 at 14:49
Kisah yang menarik. Sangat layak jadi tauladan. Di zaman ini apa masih ada tokoh seperti Bu Hatta?
Budiono Darsono
27 Januari 2009 at 06:17
sEMOGA KITA BISA MENCONTOHI BELIAU…..
Blog Competition 2009
27 Januari 2009 at 22:27
wah…keren
saya juga pengagum bung hatta soalnya.. Thx
jafis
28 Januari 2009 at 17:45
mas dadan aku cari kmana-mana….
mas….ntar aku request friend di fesbuk diconfirm ya….
tp skr aku ga lagi fesbukan…besok-besok aja….he3x….
yolanda
30 Januari 2009 at 22:29
@angga erlangga : salam kenal dan mari kita sambung silahturahmi
ok deh .. c u around
@Budiono Darsono : ku ingin percaya, bahwa masih bakal lahir lagi sosok2 sekaliber beliau, pak
@bugiakso : amiin
@jafis : sama2 bos
@yolanda : hehe. koq bisa nemu aq disini? facebook ya?
dadan
30 Januari 2009 at 22:56
Lapor gan…! Blog ini ãñÐrî link di halaman Sobat?
Laporan Selesan…!
ãñÐrî ñâwáwï
31 Januari 2009 at 04:34
woith
review yang membuat saya jadi mengerti tentang hal ini habis baca part pertama komentarr disini .
menambah pengetahuan
genthokelir
1 Februari 2009 at 20:18
kalo bung Hatta bisa 4 bahasa.. aku bisa uhmmm 6 bahasa… Inggris, Indonesia, Belanda (dikit), Jawa, kalimantan, bahasa tubuh…
Nina
7 Februari 2009 at 04:23
orang dulu memang hebat2
ario saja
7 Februari 2009 at 08:16
Mohammad Hatta adalah pemimpin yang sukar dicari tandingannya. Keteguhannya dalam bersikap dan keras terhadap diri sendiri hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang benar-benar konsisten memperjuangkan perbaikan nasib bangsa. Pun di senjakala hubungannya dengan Soekarno, Hatta terus melancarkan kritikan pada sang pemimpin besar revolusi itu. Yang mengagumkan adalah kritik, saran dan cacian Hatta terhadap Soekarno tak mengurangi rasa hormatnya kepada si bung secara pribadi.
arsyad
7 Februari 2009 at 16:41
@ãñÐrî ñâwáwï : terimakasih, kamerad !
@genthokelir : makasih telah mampir, bro
@Nina : bahasa kalbu nin hehe…
@ari saja : thx telah mampir ..
dadan
7 Februari 2009 at 16:43
cih, telat banget yak komennya
.
IMO kita gak perlu juga sih mencontoh habis-habisan Proklamator kita yang satu ini, karena sulit untuk bener-bener meniru jejaknya. Bayangkan mulai dari disiplinnya yg super saklek – sampai jadwal meneteskan obat matanya pun harus tepat waktu (doh). Tingkat kesederhanaannya yang tinggi. Kemauan yang kuat buat negeri ini – sampai menikahpun harus dijodohkan oleh Bung Karno
.
Bisa meniru satu sikap hidup beliau secara konsisten saja sudah merupakan prestasi yang hebat lho (IMO).
Yang lebih penting buat bangsa ini adalah mengumpulkan kembali pemikiran-pemikiran beliau dan mulai mengimplementasikannya. Buat saya terutama sekali pemikiran beliau mengenai sistem ekonomi kita. saat komunisme runtuh dan kapitalisme menunjukan masalahnya, ekonomi kerakyatan dan ekonomi koperasi yang beliau canangkan rasanya pantas untuk kita telaah untuk dapat diterapkan.
Btw setuju reviewnya kurang panjang. Encore … encore … (dipentung)
galeshka
8 Februari 2009 at 01:45
@galeshka :
yupe, meniru dan meneladani adalah dua hal yang berbeda. My point of view disini adalah keteladanannya.
Pemikirannya mengenai ekonomi kerakyatan dan ekonomi koperasi rasanya perlu kita tafsiri ulang karena mayoritas orang skrng berpikiran bahwasanya konsep tsb telah usang (terlebih lagi saat UI menolaknya). Pendapat pribadi saya, konsep tersebut adalah konsep yang hebat, sebagai upaya menuju negara yang mensejahteratakan warganya.
dadan
9 Februari 2009 at 06:19
wah jarang2 ada anak muda jaman sekarang suka sejarah
joanne
18 Februari 2009 at 18:52
It’s a nice blog. Salam kenal ya…
mbak maya
19 Februari 2009 at 22:20
sip
lathifulamri
21 Februari 2009 at 22:19
@joanne : haha.. iya tah ? thx ya udah mampir
@mbak maya : salam kenal
@lathifulamri : yo bro!
dadan
26 Februari 2009 at 11:48
Bung Hatta memang pantas sebagai sosok pahlawan nasional yang layak dijadikan contoh
Novianto Puji Raharjo
6 Maret 2009 at 11:03
sip sip untuk tulisanya
ada beberapa teladan yang mesti di camkan dari tulisan pertama dan kedua ini
makasih untuk wacananya
genthokelir
9 Maret 2009 at 19:49
ngopi lagi ya mas! kalau ada sambungane ya ngopi lagi..hehehe
*bung hatta itu yang menginspirasi saya untuk sekolah ekonomi, yeach… nyatanya nggak ada model ekonomi bung hatta yang bisa saya pelajari sewaktu sekolah dulu*
Andy MSE
15 Maret 2009 at 16:31
*menjura*
nampaknya saya ndak perlu beli bukunya lagi
Chic
17 Maret 2009 at 15:56
kira kira Bung Hatta klo liat Indonesia sekarang gmn yak reaksinya.??
inidanoe
5 Juni 2009 at 10:58
@Hedi
Sebenarnya ada cara praktisnya.
Saya udah buatin paketnya.
Cuman bingung mau saya upload kemana ? Lumayan gede sih…
=========================================
kalo bisa upload di http://www.indowebster.com kalo udah kasi tau aku ya di akbaryahya@ymail.com
akbar
31 Agustus 2009 at 20:22